ENGLISH
| Sunday, 19 May 2013 |
INDONESIA
Saturday, 18 May 2013 | 19:50
Tempo receives the 2013 Gwangju Prize for Human Rights Special Awardfor its
tenacity and consistency in covering human rights issues
Saturday, 18 May 2013 | 17:14
French is the 14th country that legalizes same-sex marriage.
Rabu, 31 Agustus 2005 | 18:20 WIB
PAN dan PDIP Tolak Kenaikan Harga BBM
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dua fraksi besar di DPR menunjukkan penentangannya pada sinyal pemerintah yang akan menikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam waktu dekat. Politisi Partai Amanat Nasional Dradjat H Wibowo mengatakan salah kaprah jika pemerintah menganggap kenaikan harga BBM sebagai solusi. Menurutnya, jika BBM dinaikkan maka sektor riil akan semakin terpukul dan masyarakat lebih tertekan oleh inflasi, terlebih sebagian kebutuhan diperoleh dari impor. "Apalagi sekarang rupiah sedang anjlok," ujarnya kepada wartawan di DPR, Rabu (31/8). Selain itu, kenaikan harga BBM akan menimbulkan banyak PHK (pemutusan hubungan kerja) karena perusahaan tidak mampu lagi menanggung beban biaya produksi. "Saya yakin ini akan semakin mempercepat krisis saja, jika BBM tetap dinaikkan," kata Dradjat. Sementara itu, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ramson Siagian, juga menyatakan penolakan fraksinya. "Alasan pemerintah menaikkan BBM sekarang tidak kuat," kata dia. Menurutnya, dalam pembahasan APBN Perubahan II pengeluaran pemerintah yang disepakati DPR untuk tahun anggaran 2005 sebesar Rp 138 triliun, yang artinya Rp 76,5 triliun APBN Perubahan I sudah habis sehingga masih tersisa Rp 61,5 triliun untuk sisa tahun anggaran 2005, yakni 3 bulan 3 minggu. "Rp 60 triliun lebih masih bisa dipakai untuk subsidi," kata dia. Agus Supriyanto

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.