ENGLISH
| Friday, 24 May 2013 |
INDONESIA
Friday, 24 May 2013 | 00:03
Pyongyang has denied accusations of committing violence against
rebels in North Korea.
Friday, 24 May 2013 | 00:01
Pyongyang has denied accusations of committing violence against
rebels in North Korea.
Rabu, 03 Agustus 2005 | 11:32 WIB
Mayoritas Warga Miskin Tinggal di Asia-Pasifik.
TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, sekitar dua per tiga orang miskin dunia atau setara 700 juta orang Asia Pasifik memiliki pendapatan kurang dari AS$ 1 per (sekitar Rp9500) hari. "Ini ironis mengingat wilayah kita mendapat reputasi pertumbuhan ekonomi yang dinamis, namun menjadi rumah bagi mayoritas orang miskin dunia," kata presiden di hadapan perwakilan sekitar 49 negara Asia Pasifik dalam pembukaan Pertemuan Regional Tingkat Menteri untuk Mencapai Tujuan Milenium, "The Way Forward 2015" di Jakarta Convention Center. Yudhoyono menjelaskan, kemiskinan saat ini telah menjadi musuh bersama semua negara. Semua negara berkepentingan untuk mengatasinya secara bersama, termasuk di negara masing-masing. Kemiskinan ini terlihat jelas dari fakta jutaan anak tidak dapat bersekolah, masyarakat kekurangan air bersih, sekitar 30 juta orang ketagihan narkoba, sedangkan sekitar 40 juta orang sakit AIDS. "Belum lagi kerusakan lingkungan yang terus terjadi," kata dia. Presiden menilai kondisi ini sudah sangat kritis dan membutuhkan penanganan serius dengan mengerahkan semua potensi yang ada. Dalam 10 tahun ke depan, lanjutnya, ada sejumlah tujuan milenium yang harus dicapai. "Insya Allah, kita akan mengurangi setengah jumlah orang yang kelaparan saat ini," kata dia. Seluruh anak-anak harus dapat menikmati sekolah. Terciptanya kesetaraan gender, pengurangan kematian bayi dan ibu, serrta mengembangkan kerja sama yang erat antarnegara. "Inilah target-target yang akan kita capai," kata dia. Budiriza

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.