ENGLISH
| Thursday, 23 May 2013 |
INDONESIA
Thursday, 23 May 2013 | 02:03
In a meeting with US Secretary of State John Kerry, Foreign Minister Marty
Natalegawa emphasized the importance of Indonesia- USA relationship.
Wednesday, 22 May 2013 | 23:06
Rapid growth of the property sector may eventually burdens the
balance of payments.
Senin, 18 Juli 2005 | 14:10 WIB
Sutiyoso: 350 Orang Pernah Kontak dengan Keluarga Iwan
TEMPO Interaktif, Jakarta:Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengimbau warga agar tidak panik atas ditemukannnya kasus flu burung yang terjadi di Kabupaten Tangerang yang menyebabkan tiga anggota keluarga Iwan Siswara meninggal. Agar tak menyebar ke Jakarta, Pemda DKI telah melakukan tindakan preventif untuk mencegah masuknya flu burung ke Jakarta. "Saya tegaskan pada masyarakat tidak perlu panik, saya yakinkan bahwa demam berdarah itu jauh lebih bahaya daripada flu burung dan ini musim hujan justru itu yang saya minta perhatian agar PSN digalakkan oleh seluruh masyarakat," kata Sutiyoso di Balai Kota, Senin (18/7). Menurut Sutiyoso, tindakan preventif diantaranya memonitor orang-orang yang pernah kontak dengan korban yang jumlahnya diidentifikasikan 350 orang. Mereka dimonitor terus kondisi kesehatannya. Dan sejauh ini, katanya, tidak ada indikasi terjangkit flu burung. Ia menyebutkan, di antara ratusan orang itu adalah tetangga, sanak saudaranya, dokter, perawat, termasuk anggota Badan Pemeriksa Keuangan yang menjadi rekan kerja Iwan Iswara audit senior lembaga itu yang meninggal dunia diduga karena flu burung. Pemda DKI Juga pengawasi distribusi unggas yang masuk Jakarta terutama dari Tangerang. "Ini kita awasi ketat oleh Dinas Peternakan DKI Jakarta tapi sekali lagi indikasinya belum ada," katanya. Gubernur juga menyatakan, ayam dan telur yang ada di Jakarta masih aman untuk dikonsumsi asalkan di masak terlebih dahulu dengan cara yang benar. ahmad fikri

Comments


Disclaimer: The views expressed in the comments sections are personal responses that do not represent the editorial policy of tempo.co. Our editorial staff reserves the right to moderate or take down comments that contain harassment, intimidation and discrimination against ethnicity, religion, race, and inter-group relations.